Ad Code

Responsive Advertisement

Dua Jenis Manusia yang Sama-sama Merasa Benar

Saudara-saudaraku,

Ada dua jenis manusia yang sama-sama merasa benar.

Yang pertama berkata:

“Kami kuat. Kami maju. Kami stabil.
Kalau salah, tidak mungkin Allah biarkan kami sebesar ini.”

Yang kedua berkata:

“Kami tertindas. Kami menderita.
Kalau salah, tidak mungkin kami sesakit ini.”

Dua-duanya memakai keadaan sebagai dalil.

Yang satu menjadikan kekuatan sebagai bukti kebenaran.
Yang satu menjadikan luka sebagai bukti kesucian.

Padahal…

Kuat bukan tanda diridhai.
Lemah bukan tanda disucikan.

Kalau kekuatan otomatis berarti benar,
Fir’aun pasti wali.

Kalau penderitaan otomatis berarti suci,
setiap orang yang marah pasti benar.


Ukuran Kebenaran yang Sebenarnya

Ukuran benar bukan posisi kita.
Bukan di atas atau di bawah.
Bukan dominan atau tertindas.

Ukuran benar adalah:

Apakah kita tunduk kepada Allah ketika kuat,
dan apakah kita tetap bertanggung jawab ketika lemah.

Kalau kita kuat lalu sombong, itu penyakit ‘Ad.

Kalau kita lemah lalu menjadikan luka sebagai alasan untuk menyimpang, itu ‘Ad versi terbalik.


Tauhid Menghancurkan Dua-duanya

Tauhid tidak memihak posisi.

Ia menghancurkan kesombongan dan juga mental korban.

Ia berkata:

Saat kamu kuat, jangan jadi Tuhan kecil.
Saat kamu lemah, jangan jadikan keadaan sebagai tameng dosa.

Karena di hadapan Allah,

yang diuji bukan posisi kita —
tapi sikap kita.

Tajam. Selesai.