Ad Code

Responsive Advertisement

Ketika Kaum yang Lemah Merasa Benar: Cermin Terbalik dari ‘Ad

Kali ini, mari kita bayangkan sebuah kaum yang 360° berbalik dari ‘Ad.

Bukan kaum yang kuat dan jumawa.
Bukan bangsa yang mapan dan dominan.

Tetapi kaum yang lemah, terpinggirkan, lama hidup dalam kekurangan dan tekanan.

Ini bukan tafsir literal. Ini adalah narasi psikologis-dialogis untuk menangkap batin mereka ketika seorang “Hud” datang membawa tauhid — dan tanggung jawab.


Premis: Ketika Luka Menjadi Identitas

Langit senja redup.
Rumah-rumah sederhana berdiri rapat.
Wajah-wajah letih duduk melingkar.

Seorang lelaki berkata pelan:

“Apa lagi yang bisa kita banggakan?
Kita bukan bangsa kuat.
Kita tidak punya kuasa.”

Yang lain menyahut dengan nada getir:

“Kalau Tuhan bersama kita, kenapa hidup kita seperti ini?”

Di dada mereka ada luka panjang.

Mereka tidak sombong seperti ‘Ad. Tetapi mereka memiliki keyakinan lain:

“Kami korban keadaan.”

Dan keyakinan itu perlahan berubah menjadi identitas.

Luka bukan lagi peristiwa.
Ia menjadi dasar pembenaran.


Datangnya Seorang Nabi

Lalu datang seorang nabi.

Ia tidak memulai dengan janji kekuasaan.
Ia tidak berkata, “Kalian pasti berjaya.”

Ia berkata:

“Sembahlah Allah.
Jangan jadikan penderitaan sebagai alasan untuk menyimpang.”

Kalimat itu mengguncang.

Seseorang berdiri, suaranya tajam:

“Kami sudah cukup menderita.
Sekarang kau masih menuntut kami?”

Di dalam batin mereka ada dialog yang tak terucap:

  • Kami lemah, jadi kami wajar marah.
  • Kami tertindas, jadi kebencian kami sah.
  • Kami miskin, jadi cara apa pun untuk bertahan boleh.

Inilah logika struktur versi terbalik.

Jika ‘Ad berkata:

“Kami kuat, maka kami benar.”

Kaum ini berkata:

“Kami lemah, maka kami pasti benar.”

Argumen Sang Nabi

Sang nabi melihat pola yang sama — hanya cerminnya berbeda.

Ia berkata lembut namun tegas:

“Lemah bukan berarti bebas dari tanggung jawab.
Tertindas bukan berarti otomatis suci.”

Ada keheningan yang berat.

Seorang ibu berbisik lirih:

“Kalau bukan karena keadaan, kami tidak akan begini…”

Sang nabi tidak menolak kenyataan penderitaan mereka.
Ia tidak mengingkari luka itu.

Tetapi ia menolak satu hal:

Menjadikan luka sebagai pembenaran moral.

Ketegangan Batin

Di dalam dada kaum itu muncul ketegangan.

Sebagian hati mereka ingin mendengar.
Sebagian lain takut kehilangan satu-satunya hal yang mereka punya: alasan.

Karena jika alasan itu hilang, maka mereka harus mengakui:

Bahkan dalam lemah, kami tetap bertanggung jawab.

Dan itu menakutkan.

Seorang pemuda berkata dalam hati:

“Kalau kami tidak bisa menyalahkan keadaan,
berarti kami harus berubah.
Dan berubah itu sulit.”

Di situlah titik ujiannya.

Kaum kuat sulit mengakui salah karena gengsi.
Kaum lemah sulit mengakui salah karena luka.

Dua-duanya merasa benar.
Dua-duanya memiliki pembenaran.


Pesan yang Sama di Tengah Dua Ekstrem

Sang nabi berdiri di tengah dua kutub itu dengan pesan yang sama:

Kebenaran tidak diukur dari posisi kalian.
Bukan dari kekuatan.
Bukan dari kelemahan.
Tapi dari ketundukan kepada Allah.

Malam makin dalam.

Kaum itu terdiam.

Sebagian merasa tersentuh.
Sebagian merasa disalahkan.

Dan di dalam dada mereka berkecamuk satu pertanyaan yang paling berat:

“Kalau kami tidak bisa bersembunyi di balik kekuatan,
dan tidak bisa bersembunyi di balik kelemahan,
lalu kami berdiri di mana?”

Di Situlah Tauhid Bekerja

Di situlah tauhid mulai bekerja.

Karena tauhid mencabut semua tameng:

  • Tameng kesombongan.
  • Tameng korban.

Ia tidak memihak posisi.
Ia memihak kebenaran.

Dan kebenaran itu menuntut satu hal yang sama — baik pada yang kuat maupun yang lemah:

Tanggung jawab.


Refleksi untuk Hari Ini

Pola ini tidak berhenti pada kisah masa lalu.

Ia hidup dalam masyarakat modern:

  • Dalam kelompok yang berkuasa dan merasa legitimasi lahir dari keberhasilan.
  • Dalam kelompok yang tertindas dan merasa legitimasi lahir dari penderitaan.

Pertanyaannya kini bukan tentang mereka.

Tetapi tentang kita:

Di momen apa kita bersembunyi di balik kekuatan?
Di momen apa kita bersembunyi di balik kelemahan?

Karena mungkin, dalam satu diri, dua logika itu hidup bersamaan.

Dan tauhid datang bukan untuk membela posisi kita —
tetapi untuk meluruskan hati kita.