Ad Code

Responsive Advertisement

Titik Lemah Terdalam: Antara Struktur dan Wahyu

Masih ada satu lapisan yang jarang dibicarakan ketika kita membahas pola kaum ‘Ad dan refleksinya hari ini: titik lemah terdalam masing-masing posisi.

Bukan untuk menghakimi. Tetapi untuk mengenali celah dalam diri.


🔎 Titik Lemah Kaum ‘Ad

  • Menganggap kekuatan sebagai bukti legitimasi.
  • Tidak membedakan antara “berfungsi” dan “bernilai”.
  • Mengira penundaan azab = persetujuan Tuhan.

Segala sesuatu berjalan baik. Sistem bekerja. Kekuasaan stabil. Ekonomi hidup.

Lalu muncul kesimpulan sunyi:

Kalau kami salah, tentu semuanya sudah runtuh.

Padahal keberlangsungan bukan selalu tanda keridhaan. Terkadang ia hanya ruang penangguhan.


🔎 Titik Lemah Jika Hud Disalahpahami

Di sisi lain, ada titik rawan ketika wahyu diklaim tetapi tidak dijaga maknanya:

  • Jika wahyu hanya diklaim tanpa integritas moral.
  • Jika agama berhenti di retorika tanpa akhlak.
  • Jika dakwah kehilangan kebijaksanaan sosial.

Nama kebenaran bisa tetap disebut. Ayat bisa tetap dikutip. Tetapi ruhnya menghilang.

Di sinilah orang bisa menolak bukan karena membenci kebenaran, tetapi karena melihat ketidaksinkronan antara pesan dan pembawa pesan.


Titik Rawan Dalam Diri

Sesungguhnya pertempuran terbesar bukan antara kaum ‘Ad dan Hud.

Melainkan antara logika struktur dan logika wahyu di dalam diri kita sendiri.

Saat Logika Struktur Biasanya Menang

  1. Saat kita nyaman.
  2. Saat kita diuntungkan.
  3. Saat pengakuan sosial tinggi.

Dalam kondisi ini, kita mudah menyimpulkan:

Semua baik-baik saja. Berarti jalan saya benar.

Saat Logika Wahyu Biasanya Muncul

  1. Saat kita sendirian.
  2. Saat hati gelisah.
  3. Saat kehilangan.

Itulah sebabnya banyak orang baru “kembali” ketika terguncang.

Bukan karena baru sadar Tuhan ada,

tetapi karena logika struktur runtuh.


Pertanyaan yang Tidak Nyaman

Coba tanyakan ini dalam hati:

  • Kalau semua yang saya miliki hari ini hilang, apakah saya tetap merasa berada di jalan yang benar?
  • Kalau tidak ada yang memuji saya, apakah saya tetap yakin dengan nilai yang saya pegang?
  • Apakah saya taat karena yakin, atau karena sistem hidup saya sedang menguntungkan?

Mungkin itulah pertanyaan yang dahulu disampaikan kepada kaum ‘Ad.

Dan mungkin itulah pertanyaan yang hari ini Allah arahkan kepada kita.


Karena yang paling berbahaya bukan kekuatan.

Bukan pula kelemahan.

Melainkan ketika kita menjadikan keadaan sebagai standar kebenaran.