Agar kontrasnya tajam, mari kita kembalikan semuanya pada pola dasar kaum ‘Ad:
- Kondisi sosial
- Logika berpikir
- Argumen
- Reaksi terhadap Nabi Hud
Lalu kita cerminkan 360° kebalikannya — tetapi dengan pola yang sama.
Di sini kita tidak sedang menghakimi siapa pun. Kita sedang melihat dua bentuk pembenaran manusia dalam kondisi yang berbeda.
Pola Dasar Kaum ‘Ad (QS 7:67–72)
Kaum ‘Ad hidup dalam:
- Kekuatan fisik
- Stabilitas sosial
- Kemapanan peradaban
Ketika Nabi Hud datang membawa tauhid, mereka tidak menolak karena tidak paham.
Mereka menolak karena:
Tauhid mengganggu legitimasi sistem yang sudah membuat mereka nyaman.
Perbandingan Kaum ‘Ad vs 360° ‘Ad
| Aspek | Kaum ‘Ad (Kuat & Mapan) | 360° ‘Ad (Lemah & Tertindas) |
|---|---|---|
| Kondisi Sosial | Makmur, stabil, dominan | Miskin, terpinggirkan, rapuh |
| Sumber Rasa Aman | Kekuatan & struktur | Solidaritas penderitaan |
| Logika Dasar | “Kami kuat, jadi kami benar.” | “Kami tertindas, jadi kami benar.” |
| Ukuran Kebenaran | Stabilitas & keberhasilan | Luka & ketidakadilan |
| Argumen terhadap Hud | “Kalau salah, kami pasti sudah hancur.” | “Kalau kami salah, kenapa kami terus menderita?” |
| Reaksi Awal terhadap Dakwah | Menyebut Hud bodoh/tersesat | Menuduh Hud tidak empati |
| Psikologi Dominan | Kesombongan kolektif | Mental korban kolektif |
| Tameng Moral | Tradisi & kejayaan leluhur | Penderitaan & ketidakadilan |
| Ketakutan Terdalam | Kehilangan legitimasi | Kehilangan alasan |
| Bahaya Utama | Mengkultuskan kekuatan | Mengkultuskan luka |
| Lompatan Logika | Berhasil → Diridhai | Menderita → Suci |
| Cara Menolak Hud | Tantangan: “Datangkan azab!” | Protes: “Jangan tambah beban!” |
| Kesalahan Inti | Menganggap hasil sebagai bukti moral | Menganggap penderitaan sebagai bukti moral |
Titik Persamaan yang Sering Tak Terlihat
Meskipun berlawanan kondisi, pola batinnya ternyata sama:
- Sama-sama memakai kondisi sebagai dalil.
- Sama-sama menjadikan posisi sosial sebagai legitimasi moral.
- Sama-sama defensif ketika diminta bertanggung jawab.
Kaum ‘Ad berkata:
“Siapa yang lebih kuat dari kami?”
Kaum 360° berkata:
“Siapa yang lebih menderita dari kami?”
Dua kalimat berbeda. Satu pola yang sama: menggunakan keadaan sebagai standar kebenaran.
Posisi Hud di Tengah Dua Ekstrem
Hud tidak berkata:
- “Jadilah kuat.”
- “Jadilah lemah.”
Hud berkata:
“Sembahlah Allah.”
Artinya:
- Kuat → tetap tunduk.
- Lemah → tetap bertanggung jawab.
Tauhid mencabut dua ilusi sekaligus:
- Ilusi superioritas.
- Ilusi victimhood.
Refleksi Zaman Sekarang
Dalam dunia modern, dua tipe ini hidup berdampingan:
- Negara kuat yang merasa legitimasinya lahir dari kemajuan.
- Kelompok tertindas yang merasa otomatis berada di sisi kebenaran.
Padahal wahyu menguji keduanya.
Bukan dengan:
“Siapa lebih besar?”
Tapi dengan:
“Siapa lebih tunduk?”
Refleksi Personal
Pertanyaannya kini menjadi lebih dekat:
Dalam diri satu individu, kapan ia menjadi ‘Ad, dan kapan ia menjadi 360° ‘Ad?
Karena pada akhirnya, yang diuji bukan posisi kita — tetapi ketundukan kita.